Minggu, 29 Desember 2013

this is???

mmmmm



I really love you, but why do you never care about these feelings. I always keep this love, keep this heart just for you. but, what do you give to me? wound? regret? tears? crying? hurt? what else?

until this moment you know, I just expect you. but my heart, more than that. Here, I not only expect, but also waiting for you, harbored a deep sense of love for you and are always loyal to love you. although it would never be able to re-open your heart for me.

I know I'm not as beautiful as you now have, I know I'm not as perfect in your arms. but must you always will know this heart will always be engraved name. until whenever you will be the former the most beautiful. and more importantly, my love is certainly more beautiful than the charm of someone who you have today .

PRO-KONTRA ENERGI NUKLIR SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK (PLTN)








Minat umum untuk tenaga nuklir ‘kecil’












Jajak pendapat yang diadakan untuk BBC menunjukkan bahwa keinginan masyarakat di dunia pada kelanjutan tenaga nuklir hanya kecil.
Survei GlobeScan yang dilakukan terhadap lebih dari 20.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga responden menentang pembangunan reaktor nuklir baru.
Hanya 22% responden setuju bahwa "tenaga nuklir relatif aman dan merupakan sumber listrik yang penting, dan kita harus membangun lebih banyak pembangkit tenaga nuklir".
Sebaliknya, 71% berpendapat negara mereka "dapat seluruhnya mengganti batu bara dan tenaga nuklir dalam waktu 20 tahun dengan menggunakan energi yang efisien dan memusatkan perhatian pada tenaga surya dan angin".
Secara keseluruhan 39% responden ingin tetap menggunakan reaktor yang ada tanpa membangun pembangkit baru, sementara 30% responden menginginkan semua pembangkit listrik tenaga nuklir ditutup sekarang juga.

Penentangan bertambah

Jajak pendapat GlobeScan untuk BBC diadakan mulai Juli hingga September tahun ini, beberapa bulan setelah bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang yang menghanculkan PLTN Fukushima Daiichi.
Jumlah orang yang menentang pembangunan baru pembangkit listrik tenaga nuklir tampak bertambah di Prancis, Jerman, Meksiko, Rusia dan Jepang.
Pada 2005 lalu GlobeScan melakukan jajak pendapat di delapan negara yang mempunyai program nuklir. Jumlah responden yang menentang pembangunan reaktor baru di sebagian besar negara-negara tersebut meningkat.
Di Jerman jumlah mereka meningkat dari 73% pada 2005 menjadi 90% sekarang ini dan perkembangan tersebut mencerminkan keputusan pemerintah Jerman baru-baru ini untuk menutup program nuklirnya.
Di negara pronuklir, Prancis, jumlah penentang meningkat dari 66% menjadi 83% pada periode yang sama. Namun di Jepang kenaikan jumlah penentang tidak terlalu besar, dari 76% menjadi 84%.
Sedangkan beberapa pro-kontra yang berada di Indonesia terdapati sebagai berikut:
Jumat 8 April 2011 yang lalu, Fakultas Filsafat bekerja sama dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Penerbit Kanisius mengadakan diskusi tentang pro kontra nuklir. Hal ini menarik mengingat insiden Fukushima menjadikan banyak orang berpikir ulang mengenai mendesak atau tidaknya pengembangan nuklir di Indonesia. Tentu saja bagi masyarakat umumnya, ketakutan akan bahaya radiasi menjadi alasan tersendiri untuk berpikir ulang perlu atau tidak  atau bahkan menolak mentah-mentah pengembangan nuklir di Indonesia.
Diskusi menghadirkan Dr. A. Sonny Keraf, dosen filsafat  Unika Atmajaya Jakarta dan mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Dr. Ir. Tumiran, M.Eng., anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dan Dekan Fakultas Teknik UGM, dan sebagai pembahas Prof. dr. Hari Kusnanto. Dr.PH., Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM. Diskusi  yang dimoderatori Drs. Achmad Charris Zubair ini apa pro-kontra mendapat perhatian banyak kalangan, diikuti oleh tidak kurang dari 200 peserta yang terdiri dari banyak pakar/dosen dari Teknik Fisika, Sosiologi, dan berbagai ilmu di lingkungan UGM, para praktisi kesehatan dan lainnya di lingkungan DIY, para mahasiswa baik S1, S2 maupun S3 di lingkungan UGM,  wartawan, dan peminat lain.

Dalam sambutannya Dekan Fakultas Filsafat mengatakan bahwa termasuk tugas Fakultas Filsafat untuk memberikan ruang publik bagi pengembangan dan konsultasi berbagai gagasan terkait dengan persoalan di masyarakat termasuk mengenai perlu tidaknya pengembangan energi nuklir di Indonesia. Hadir mewakili penerbit Kanisius Drs. Supriyono menyambut baik kerjasama yang dirintis Perpustakaan Fakultas Filsafat. Selain ini beliau juga menyinggung mengenai filosofi “makan untuk hidup atau hidup untuk makan”. Implisit dalam konteks ini, sesungguhnya nuklir diperlukan dalam rangka untuk hidup yang seperti apa. Apakah manusia harus hidup dan memerlukan energi nuklir? Kapan?

Sejalan dengan konsep ini diskusi mengupas sejauh mana energi nuklir diperlukan dan kapan mengingat banyak di antara kita setuju tentang pentingnya nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi asal tidak dekat-dekat dengan tempat kita tinggal, “not in my back yard”. Sonny Keraf lebih menekankan pada perlunya pengembangan energi lain mengingat Indonesia sangat kaya akan sumber-sumber energi. Pembangunan reaktor nuklir juga memerlukan proses yang lama dan biaya yang tidak sedikit. Kalau toh pengembangan energi nuklir “terpaksa” dilaksanakan, persiapkan dulu segala persyaratannya termasuk kesiapan mentalitas dan moralitas masyarakat sehingga mampu menopang kemungkinan efek negatif yang mungkin timbul. Faktor resiko bencana alam juga menjadi salah satu perhatian. Maka Sonny mengatakan, mungkin pengembangan energi nuklir di Indonesia baru bisa direalisasikan tahun 2100, ketika manusia Indonesia sudah mampu menyiapkan diri untuk menghadapi segala resiko yang dihadapi. Prinsip kehati-hatian menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi resiko pengembangan sumber energi terutama yang akan berdampak serius di masyarakat.

Dr. Ir. Tumiran, M.Eng., lebih banyak menyajikan mengenai kebutuhan energi Indonesia. Menurutnya, dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia mengalami defisit energi dibandingkan dengan yang semestinya diperlukan. Belum semua wilayah di Indonesia mendapatkan pasokan listrik padahal kecukupan energi menjadi faktor penting  yang akan mendorong kemajuan masyarakat. Pengembangan sumber energi menjadi kebutuhan dan semuanya memerlukan biaya yang besar. Pengembangan nuklir hanyalah salah satu alternatif dan bila hal itu diambil maka resikonya juga harus dipertimbangkan. Pilihan inilah yang akan menjadi titik pijak bagi tidak atau dilaksanakannya pengembangan sumber energi baru termasuk nuklir.

Mempertimbangkan banyak faktor yang di atas, Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH. mengingatkan bahwa banyak insiden yang terjadi di Indonesia lebih dikarenakan human factor. Nah, siapkah bangsa Indonesia membawa diri untuk tidak mengalami insiden dan bencana di banyak hal berkait pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi? Kalau sampai 2100 tidak ada aspek human factor dari semua kegiatan yang berkait dengan teknologi, mungkin ini menjadi ujian dan lulusnya bangsa Indonesia untuk menyiapkan pengembangan sumber energi nuklir. Tetapi bagaimana dengan resiko yang lebih besar karena Indonesia berada di wilayah bahaya (ring of fire)? Sepertinya kita harus menghitung lebih banyak faktor lagi.

Menurut saya, saya tidak setuju jika Indonesia membuat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), karena Indonesia belum cukup kuat untuk membuat Pembangkit Listrik bertenaga Nuklir seperti yang berada di Jepang, maupun tempat lainnya. Saya berpendapat seperti itu karena Indonesia adalah tempat yang berada di garis Khatulistiwa yang rawan terjadinya gempa. Jika Indonesia memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir maka kemungkinan besar Nuklir-nuklir yang sedang dipergunakan menjadi goyah dan gampang terjadi ledakan.
Contoh saja kejadian di Chernobyl terletak di Ukraina utara, tepatnya di Oblast Kiev dekat dengan perbatasan Belarusia. Terjadi ledakan nuklir yang begitu hebat. Pada 26 April 1986, Reaktor #4 di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl didekat kota Pripyat, Ukraina, meledak. Ledakan itu terjadi pada 1:23 dini hari ketika warga kota tetangga Pripyat sedang tertidur. Dua pekerja tewas seketika. 40 jam kemudian, penduduk Pripyat diperintahkan untuk mengungsi, dan jangan pernah kembali, pada saat itu, banyak warga telah menderita keracunan radiasi berbagai tingkat.
Pada tahun 2003, Program Pembangunan PBB meluncurkan proyek yang disebut Pemulihan dan Pembangunan Chernobyl (CRDP) untuk pemulihan daerah bencana. Program ini diluncurkan kegiatannya berdasarkan Konsekuensi Manusia rekomendasi laporan Kecelakaan Chernobyl Nuklir dan dimulai pada bulan Februari 2002. Tujuan utama dari kegiatan CRDP itu adalah mendukung Pemerintah Ukraina untuk mengurangi konsekuensi jangka panjang sosial, ekonomi dan ekologi dari bencana Chernobyl, antara lain. CRDP bekerja di empat paling Chernobyl daerah yang terkena di Ukraina: Oblast KievOblast Zhytomyrska, sebagian KievOblast Chernihivska dan Oblast Rivne.
Lebih baik gunakan Pembangkit Listrik bertenaga air maupun udara. Karena lebih aman, dan juga tidak terlalu menggunakan banyak biaya jika ingin membuat Pembangkit Listriknya yang baru. Indonesia adalah Negara dengan banyak koleksi alam yang sangat bagus dan indah, jadi sangat disayangkan jika Indonesia suatu saat disebut sebagai "kota hantu" dikarenakan terjadi ledakan Nuklir yang dahsyat. Bukan hanya Indonesia yang akan terkena radiasi dari nuklir tersebut, namun negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Australia juga akan mendapatkan radiasi nuklir yang dibuat dari Indonesia.
Sumber masalah hanya satu namun yang terkena akibatnya sangatlah banyak. Jadi Indonesia harus berpikir ribuan kali jika ingin menggunakan Nuklir sebagai Pembangkit Listrik.

SUMBER :

PENEMUAN SENYAWA BARU

Berikut adalah Penemuan Senyawa Baru Yang Berguna Bagi Manusia :




1. Penemuan Senyawa Baru 1,3-Oxaphospholes.


Prof Dr Ciptadi berhasil menemukan senyawa kimia baru yaitu senyawa 1,3-oxaphospholes. Dijelaskannya, senyawa 1,3-oxaphospholes yang ditemukannya itu, terindikasi sebagai senyawa yang bermanfaat untuk antibiotik dan pestisida. Senyawa itu dibuat dari unsur phosphorus. "Saat berada studi di Perancis, saya menemukan 40 senyawa oxaphospholes dan derivat-derivatnya (turunannya)," katanya.

Dari 40 senyawa baru tersebut 30 di antaranya sudah dikirim ke Bayern Jerman, sebuah lembaga farmasi yang ada di Jerman.Sementara 10 senyawa baru lainnya masih dikembangkan oleh mahasiswa program doktor (S3) di ENSCM Montapellier II Perancis.


Penemuan senyawa baru olehnya itu diharapkan dapat dipatenkan bersama-sama dengan Prof Dr Cristau, seorang guru besar asal Perancis selaku dosen pembimbing saat melakukan penelitian di laboraorium universitas tersebut.
Berdasarkan keterangan guru besar bidang biokimia/ kimia organik Unpar tersebut, penemuan tersebut cukup membanggakan bangsa Indonesia, karena jarang terdapat mahasiswa Indonesia menemukan senyawa baru di perguruan tinggi itu.
Oleh karena itu, ketika diumumkan penemuan tersebut, Duta Besar Indonesia untuk Perancis ikut menghadiri dan mengucapkan selamat atas penemuan tersebut.
Pengembangan penelitian ini masih terus dilakukan bekerjasama dengan laboratorium kimia organik ENSCM Universite Montpellier II Perancis.


Penemuan senyawa-senyawa baru tersebut sebagian sudah diseminarkan di berbagai negara di Eropa dan Asia seperti Perancis, Inggris, Jerman, dan Jepang.
Sebagian juga sudah dipublikasikan pada jurnal internasional, seperti Acta Crystallographica, European Jounal of Organik Chemistry, Journal of Organometallic Chemistry, Phosphorus Sulfur and Silicon, katanya.
Ia menemukan senyawa itu saat ia mengambil program doktor (S3) kimia biomolekul di ENSCM Universite Montapellier II, Perancis.




2. CP-601932 ; PF-4575180


Kamis, 4 November 2010 - "Data kami menunjukkan bahwa dengan menargetkan subtipe nAChR tertentu, dimungkinkan bisa mengobati ketergantungan alkohol dan nikotin dengan satu obat."

Para peneliti di Klinik Ernest Gallo dan Pusat Penelitian di Universitas California, San Francisco, serta Pfizer Inc, telah menentukan bahwa dua senyawa baru mungkin efektif dalam mengobati ketergantungan alkohol dan nikotin pada saat yang bersamaan.
Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam Neuropsychopharmacology edisi 3 November 2010, para peneliti menunjukkan bahwa konsumsi alkohol pada tikus secara signifikan diturunkan oleh dua senyawa yang ditargetkan ke reseptor asetilkolin neuronal nicotinic (nAChR) subtipe {alpha}3{beta}4*.
nAChRs merupakan protein yang ditemukan di dalam otak dan sistem saraf pusat lebih luas yang memediasi efek zat-zat seperti nikotin. Baru-baru ini studi genetika manusia telah menunjukkan bahwa pengkodean gen subtipe {alpha}{3}beta4* sangat signifikan bagi kerentanan terhadap ketergantungan alkohol dan nikotin.
“Masalah ini telah menerjemahkan temuan-temuan genetik penting dalam pengobatan yang lebih efektif bagi manusia,” kata rekan penulis senior, Selena E. Bartlett, PhD, direktur kelompok Pengembangan Praklinis di Center Gallo. Penulis utama studi ini adalah Susmita Chatterjee, PhD, dari Pusat Gallo.
Pekerjaan telah dilakukan dalam kolaborasi dengan para ilmuwan yang dipimpin oleh rekan-penulis senior, Hans Rollema, PhD, dalam Neuroscience Research Unit di Pfizer Inc
Salah satu senyawa baru, CP-601932, telah dinyatakan aman pada manusia dalam sebuah studi klinis, catat Bartlett. Dia merekomendasikan sebuah studi klinis untuk mengevaluasi efikasi senyawa dan potensi manfaat baik dalam mengobati ketergantungan alkohol dan nikotin.
Senyawa lainnya adalah PF-4575180. Keduanya dikembangkan oleh Pfizer.
“Kecanduan alkohol dan nikotin seringkali diperlakukan sebagai gangguan yang terpisah,” kata Bartlett, “terlepas dari kenyataan bahwa 60 hingga 80 persen peminum berat juga menghisap tembakau. Sangat sedikit strategi yang efektif untuk mengobati gangguan ini secara terpisah, apalagi secara bersamaan. Data kami menunjukkan bahwa dengan menargetkan subtipe nAChR tertentu, dimungkinkan bisa mengobati ketergantungan alkohol dan nikotin dengan satu obat.”
Selagi senyawa memiliki dampak yang signifikan terhadap konsumsi alkohol pada tikus, asupan sukrosa tidak memiliki efek.” Hal ini menunjukkan bahwa tidak seperti obat lainnya yang sudah disetujui untuk penyalahgunaan alkohol, senyawa ini tidak mengganggu sistem pengimbalan alamiah otak dengan cara yang lebih luas,” kata Bartlett.
Rekan penulis dari penelitian ini adalah Pia Steensland dari Institutet Karolinska, Swedia; Jeffrey A. Simms dan Joan Holgate dari Gallo Center, serta Yotam W. Coe, Raymond S. Hurst, Christopher L. Shaffer dan John Lowe dari Pfizer.
Penelitian ini didukung pendanaan dari National Institute of Health, Departemen Pertahanan AS, Negara Bagian California, Yayasan BLANCEFLOR Boncompagni-Ludovisi, Bildt née, Yayasan Swedia-Amerika, dan Insamlingsstiftelsen Hjärnfonden/Yayasan Otak Swedia.
UCSF – afiliasi Klinik Ernest Gallo dan Research Center merupakan salah satu pusat terkemuka di dunia akademis untuk studi dasar biologis gangguan penggunaan substansi dan alkohol. Gallo Center menemukan molekul target potensial untuk pengembangan obat terapeutik yang diperpanjang melalui studi proof-of-concept klinis dan praklinis.
UCSF merupakan universitas terkemuka yang didedikasikan untuk mempromosikan kesehatan di seluruh dunia melalui penelitian biomedis lanjut, tingkat pendidikan sarjana di bidang ilmu pengetahuan dan profesi kesehatan, serta keunggulan dalam perawatan pasien.






Senin, 04 November 2013

EFEK RUMAH KACA

Pengertian Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca. Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakangan ini diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.

Ketika radiasi matahari tampak maupun tidak tampak dipancarkan ke bumi, 10 energi radiasi matahari itu diserap oleh berbagai gas yang ada di atmosfer, 34% dipantulkan oleh awan dan permukaan bumi, 42% membuat bumi menjadi panas, 23% menguapkan air, dan hanya 0,023% dimanfaatkan tanaman untuk perfotosintesis.

Malam hari permukaan bumi memantulkan energi dari matahari yang tidak diubah menjadi bentuk energi lain seperti diubah menjadi karbohidrat oleh tanaman dalam bentuk radiasi inframerah. Tetapi tidak semua radiasi panas inframerah dari permukaan bumi tertahan oleh gas-gas yang ada di atmosfer. Gas-gas yang ada di atmosfer menyerap energi panas pantulan dari bumi.
Dalam skala yang lebih kecil – hal yang sama juga terjadi di dalam rumah kaca. Radiasi sinar matahari menembus kaca, lalu masuk ke dalam rumah kaca. Pantulan dari benda dan permukaan di dalam rumah kaca adalah berupa sinar inframerah dan tertahan atap kaca yang mengakibatkan udara di dalam rumah kaca menjadi hangat walaupun udara di luar dingin. Efek memanaskan itulah yang disebut efek rumah kaca atau ”green house effect”. Gas-gas yang berfungsi bagaikan pada rumah kaca disebut gas rumah kaca atau ”green house gases”.


Gas rumah kaca
Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia.
Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan vulkanik; pernapasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida); dan pembakaran material organik (seperti tumbuhan).
Karbondioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta mengambil atom karbonnya.
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

          1. Uap air
Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca. Konsentrasi uap air berfluktuasi secara regional, dan aktivitas manusia tidak secara langsung memengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala lokal. Dalam model iklim, meningkatnya temperatur atmosfer yang disebabkan efek rumah kaca akibat gas-gas antropogenik akan menyebabkan meningkatnya kandungan uap air di troposfer, dengan kelembapan relatif yang agak konstan. Meningkatnya konsentrasi uap air mengakibatkan meningkatnya efek rumah kaca; yang mengakibatkan meningkatnya temperatur; dan kembali semakin meningkatkan jumlah uap air di atmosfer. Keadaan ini terus berkelanjutan sampai mencapai titik ekuilibrium (kesetimbangan). Oleh karena itu, uap air berperan sebagai umpan balik positif terhadap aksi yang dilakukan manusia yang melepaskan gas-gas rumah kaca seperti CO2[1]. Perubahan dalam jumlah uap air di udara juga berakibat secara tidak langsung melalui terbentuknya awan.

          2. Karbondioksida
Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar bahan bakar fosil, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian. Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbondioksida di atmosfer, aktivitas manusia yang melepaskan karbondioksida ke udara jauh lebih cepat dari kemampuan alam untuk menguranginya. Pada tahun 1750, terdapat 281 molekul karbondioksida pada satu juta molekul udara (281 ppm). Pada Januari 2007, konsentrasi karbondioksida telah mencapai 383 ppm (peningkatan 36 persen). Jika prediksi saat ini benar, pada tahun 2100, karbondioksida akan mencapai konsentrasi 540 hingga 970 ppm. Estimasi yang lebih tinggi malah memperkirakan bahwa konsentrasinya akan meningkat tiga kali lipat bila dibandingkan masa sebelum revolusi industri.
          3. Metana
Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca. Ia merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan. Sejak permulaan revolusi industri pada pertengahan 1700-an, jumlah metana di atmosfer telah meningkat satu setengah kali lipat. Metan berasal dari gas alamiah, pertambangan batubara, kotoran hewan dan tumbuhan yang telah membusuk. Hal yang paling dikhawatirkan para ilmuwan adalah tumbuhan yang membusuk. Beberapa ribu tahun yang lalu, miliaran ton metan terbentuk dari pembusukan tumbuh-tumbuhan Arktik di Kutub Utara. Tumbuhan itu membusuk dan membeku di dasar laut. Saat kutub utara mulai menghangat, metan yang tersimpan di dasar laut itu dapat mempercepat pemanasan di kawasan itu.
          4. Nitrogen Oksida
Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Ntrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila dibandingkan masa pre-industri.

Gas lainnya Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran berflourinasi dihasilkan dari peleburan alumunium. Hidrofluorokarbon (HCFC-22) terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan. Lemari pendingin di beberapa negara berkembang masih menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai media pendingin yang selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon (lapisan yang melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet). Selama masa abad ke-20, gas-gas ini telah terakumulasi di atmosfer, tetapi sejak 1995, untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan dalam Protokol Montreal tentang Substansi-substansi yang Menipiskan Lapisan Ozon, konsentrasi gas-gas ini mulai makin sedikit dilepas ke udara. Para ilmuan telah lama mengkhawatirkan tentang gas-gas yang dihasilkan dari proses manufaktur akan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Pada tahun 2000, para ilmuan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara substansial di atmosfer. Bahan tersebut adalah trifluorometil sulfur pentafluorida. Konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.Selain karbon dioksida, ada dua gas lagi yang dikhawatirkan mempercepat pemanasan global lebih buruk lagi. Keduanya adalah metan dan nitrogen triflorida yang berasal dari tanaman purba dan teknologi layar flat-panel. Menurut para pengamat lingkungan, kedua gas tersebut menimbulkan efek rumah kaca seperti karbon dioksida. Bahkan, kedua gas tersebut memberi efek hampir sama dari yang disebabkan karbondioksida. Penelitian terbaru menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir efek kedua gas tersebut semakin meningkat di luar perkiraan. Para pengamat cuaca juga terkejut dengan peningkatan tersebut.
Selama ini gas metan masih menjadi kekhawatiran terbesar setelah karbon dioksida. Pasalnya, gas tersebut dianggap sebagai gas efek rumah kaca kedua setelah karbon dioksida berdasar besarnya efek pemanasan yang dihasilkan dan jumlahnya di atmosfer. Gas metan menyumbang sepertiga dari efek karbondioksida terhadap pemanasan global.

Para ilmuwan telah berupaya untuk mempelajari bagaimana proses tersebut akan bermula. Saat ini data yang terkumpul masih berupa data awal, belum ada kesimpulan. Tetapi para ilmuwan tersebut mengatakan apa yang mereka lihat di awal ini adalah permulaan pelepasan metan di kutub utara.
Dalam delapan tahun terakhir kadar metan di atmosfer masih stabil yang diperkirakan setiap 40 menit oleh monitor pengawas dekat tebing di tepi laut. Tetapi pada 2006 hasilnya menunjukkan terjadinya peningkatan. Jumlah gas metan di udara melonjak dari sekitar 28 juta ton pada Juni 2006 hingga Oktober 2007. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 5,6 miliar ton metan di udara. Jika hal ini terus terjadi, maka akan buruk efeknya. Saat kadar metan terus meningkat, tentunya akan mempercepat perubahan iklim. Di lain pihak, kadar nitrogen triflorida di udara diperkirakan meningkat empat kali lipat beberapa tahun terakhir dan 30 kali lipat sejak 1978. Namun, peningkatan tersebut hanya menyumbang 0,04 persen dari total efek pemanasan global yang disebabkan oleh karbondioksida. Gas ini biasanya digunakan sebagai semacam pembersih pada industri manufaktur televisi dan monitor komputer serta panel.
Nitrogen triflorida yang dihiting dengan skala bagian per triliun di udara selama ini memang dianggap ancaman tak berarti. Menurut profesor geofisika Ray Weiss di Lembaga Oseanografi, upaya awal untuk mengetahui jumlah gas tersebut di udara memang diremehkan mengingat jumlahnya yang tak terlalu besar.
Tetapi gas tersebut justru dikategorikan sebagai salah satu gas yang lebih berbahaya karena ratusan kali lebih kuat menyimpan panas daripada karbondioksida. Sedangkan metan hanya 20 kali lebih berbahaya dari karbondioksida per basis molekul. Karbondioksida masih menjadi gas yang paling berbahaya karena kadarnya yang sangat tinggi dan pertumbuhannya yang cepat.
Menurut penelitian sebuah survei di musim panas, menemukan kadar metan di Laut Siberia timur meningkat dari 10.000 kali lebih tinggi dari kadar normalnya. Peningkatan dua gas tersebut adalah fenomena baru.

Dampak

     Dampak Terhadap Lingkungan
Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.
Dunia telah kehilangan hampir 20 persen terumbu karangnya akibat emisi karbon dioksida. Laporan yang dirilis Global Coral Reef Monitoring Network ini merupakan upaya memberi tekanan atas peserta konferensi PBB mengenai iklim agar membuat kemajuan dalam memerangi kenaikan suhu global. Jika kecenderungan emisi karbon dioksida saat ini terus berlangsung, banyak terumbu karang mungkin akan hilang dalam waktu 20 sampai 40 tahun mendatang, dan ini akan memiliki konsekuensi bahaya bagi sebanyak 500 juta orang yang bergantung atas terumbu karang untuk memperoleh nafkah mereka. Jika tak ada perubahan, kita akan menyaksikan berlipatnya karbon dioksida di atmosfer dalam waktu kurang dari 50 tahun.
Karena karbon ini diserap, samudra akan menjadi lebih asam, yang secara serius merusak sangat banyak biota laut dari terumbu karang hingga kumpulan plankton dan dari udang besar hingga rumput laut. Saat ini, perubahan iklim dipandang sebagai ancaman terbesar bagi terumbu karang. Ancaman utama iklim, seperti naiknya temperatur permukaan air laut dan tingkatan keasaman air laut, bertambah besar oleh ancaman lain termasuk pengkapan ikan secara berlebihan, polusi dan spesies pendatang.

     Dampak Terhadap Perekonomian
Kehilangan lahan produktif akibat kenaikan permukaan laut dan kekeringan, bencana, dan risiko kesehatan mempunyai dampak pada ekonomi. Sir Nicolas Stern, penasehat perdana menteri Inggris mengatakan bahwa dalam 10 atau 20 tahun mendatang perubahan iklim akan berdampak besar terhadap ekonomi.

Stern mengatakan bahwa dunia harus berupaya mengurangi emisi dan membantu negara-negara miskin untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim demi kelangsungan pertumbuhan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa dibutuhkan investasi sebesar 1% dari total pendapatan dunia untuk mencegah hilangnya 5%-20% pendapatan di masa mendatang akibat dampak akibat perubahan iklim.

Contohnya pada kerusakan lingkungan di Bali, pada 140 titik abrasi dari panjang panti sekitar 430km, laju kerusakan pantai di Bali diperkirakan 3,7km per tahun dengan erosi ke daratan 50-100 meter per tahun (Bali Membangun, 2004). Kerusakan ini ditambah potensi dampak dari perubahan iklim diduga akan menyebabkan muka air laut naik 6 meter pada 2030, sehingga Kuta dan Sanur akan tergenang (Bali Post, 16 Agustus 2007)
Hal ini mengancam keberlangsungan pendapatan dari pariwisata yang mengandalkan kekayaan dan keindahan pantai dan laut di Bali. Daerah yang lebih 'aman' adalah pantai berkarang yang bersifat terjal, seperti Uluwatu dan Nusa Penida serta daerah perbukitan dan pegunungan yang saat ini mempunya ketinggian diatas 50meter.

     Dampak Dengan Adanya Mobil Murah
2030, Emisi Karbo Naik Lima Kali Lipat
Data yang dilansir Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta menyebutkan, profil emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di Kota Jakarta pada tahun 2005 lalu, penyumbang terbesarnya dari sektor transportasi dan pembangkit listrik.

Masing-masing persentasenya sebesar 44,89 persen dan 40,74% persen. Sedangkan sektor industri, sampah, dan rumah tangga persentasenya masing-masing sebesar 5,17 persen, 5,06 persen dan 4,10 persen.

Dari data tersebut, hasil perhitungan emisi GRK dari dua sumber utama adalah sektor transportasi dan pembangkit (pemakaian listrik) masing-masing sebesar 19,61 juta ton dan 17,79 juta ton CO2.

Bila tidak ada antisipasi serius, diperkirakan pada tahun 2030, emisi CO2 tersebut akan melonjak lebih dari lima kali lipat hingga mencapai lebih dari 200 juta ton CO2 mencemari atmosfer ibukota.

Tentunya emisi sebesar itu merupakan sebuah angka yang luar biasa bila hal tersebut tidak ditindaklanjuti. Bisa dibayangkan betapa makin tidak ramah ibukota negeri terhadap warganya sendiri.

Melalui situs Jakarta.go.id, Pemprov DKI Jakarta sendiri mengklaim tidak tinggal diam. Salah satunya dengan mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) No 2 Tahun 2005 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Kebijakan lain yakni Surat Keputusan (SK) Gubernur no. 141 yang mendesak semua kendaraan dinas Pemprov Jakartamenggunakan bahan bakar gas ramah lingkungan seperti CNG (Compress Natural Gas).
Ini pula yang telah digunakan moda transportasi TransJakarta (busway). Yang kedua adalah LPG (Liquid Petroleum Gas).

Minimnya Ruang Terbuka HijauFenomena global warming dalam konteks kenaikan suhu udaramemang sulit dihindari semua negara, semua kota. Tapi faktor pemicu lokal tak kalah memperparah.

Manager Building Construction Information (BCI) Asia Ashlakul Umam yang dikonfirmasi secara terpisah menuturkan, bahan bangunan berupa kaca sudah saatnya dilarang di Jakarta, karena sifatnya yang memantulkan panas dan bukannya meredam.

Standar ideal, struktur kaca pada tiap gedung harusnya tidak boleh lebih dari 30 persen. Tapi nyatanya banyak gedung mayoritas berkaca karena tampak mentereng dan 'angkuh.'

Sialnya, Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai peredam panas dan penghasil oksigen di Jakarta cuma tersedia tak lebih dari 10 persen dari total wilayah 65 ribu hektar.

Padahal Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Perkotaan mensyaratkan ketersedian RTH minimal 30 persen, terdiri atas 20 persen milik pemerintah dan 10 persen pribadi.

Parahnya lagi, pada tahun 2000 hingga 2005, Jakarta kehilangan 4.000 hektar RTH, terdiri atas 3.500 hektar kawasan resapan air di Jakarta Selatan dan 500 hektar di berbagai wilayah Jakartaakibat perubahan fungsi lahan.

"Padahal di mana ada ruang terbuka hijau, di situ udaranya lebih sejuk 2 derajat dibanding yang tidak ada pepohonan," tutur Umam kepada Tribunnews.com. Selain penyejuk udara alami, RTH juga menyerap karbondioksida yang dilepaskan kendaraan bermotor.

Berdasarkan laporan yang dirilis WWF, Climate Change: Implications for Humans and Nature tahun 2007, suhu udara di Indonesia cenderung naik rata-rata 0,3 derajat celsius per tahun.

Jadi bisa dibayangkan, kalau temperatur Jakarta saat ini yang rata-rata 33-34 derajat celcius itu pelan-pelan akan terus merangkak naik, mendekati 50 derajat celcius atau separuh panasnya air mendidih! Bisa jadi lebih, seperti pengalaman Pakistan, terutama kalau problem pemicunya tidak segera diantisipasi.

Meski isu pemanasan global terus menghantui, anehnya aktifitas mengonsumsi bahan bakar fosil, limbah padat dan sebagainya malah terus mengalami lonjakan, semakin pula memperbanyak karbondioksida melayang-layang di atmosfir.

Pada saat yang sama terjadi perambahan hutan dengan alasan mendesaknya kebutuhan perumahan dan produksi pangan yang ujung-ujungnya menyumbang pemanasan global.

Di sisi lain penggunaan bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Hal yang sama terjadi di Indonesia, seiring lonjakan jumlah kendaraan yang mengaspal di jalanan maupun kebutuhan industri.

Untuk diketahui, total konsumsi energi Indonesia selama tahun 2007 sebesar 5,18 EJ. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merinci, konsumsi energi ini berasal dari energi fosil sebesar 95 persen, Hydropower 3,4 persen, panas bumi 1,4 persen, dan lainnya 0,2 perten (data tahun 2003).

Artinya, ketergantungan pada minyak dari perut bumi masih dominan.

Pencemaran lingkungan sulit dibendung. Sebuah riset menyebut Indonesia menjadi negara dengan tingkat polusi udara tertinggi ketiga di dunia. Bank Dunia bahkan memposisikan Jakartasebagai kota dengan kadar polutan/partikulat tertinggi di jagat ini setelah Beijing, New Delhi dan Meksiko.

Divisi Pengkajian Ozon dan Polusi Udara di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebutkan, penyulut pencemaran udara terbesar di Indonesia adalah emisi gas buang dari kendaraan bermotor, yaitu sekitar 85 persen.

"Faktor perawatan kendaraan yang tidak memadai dan pemakaian bahan bakar yang boros, juga cenderung menghasilkan kadar timbal tinggi yang merusak kualitas udara," kata Tubagus Soleh Ahmadi, peneliti dari Walhi Jakarta, saat ditemui secara terpisah.

Peneliti lingkungan, Ir Rusman Sagala MT, lewat makalahnya memaparkan, kalau tahun 2005 volume emisi karbon (CO2e) diJakarta mencapai 35,09 juta ton, maka diperkirakan pada tahun 2030 mendatang bakal tembus 113,94 juta ton.

Bisa dibayangkan dong, betapa buruknya kualitas udara Jakarta, rusaknya ozon dan gerahnya suhu udara. Aneka penyakit kulit dan gangguan pernafasan seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) menghantui.

Rusman menyebutkan, penyumbang terbesar emisi karbon adalah sektor industri sebesar 29 persen. Secara kasab mata memang mudah dibuktikan, karena Jakarta dikelilingi kota-kota industri. Keluar sedikit dari kota, cerobong asap pabrik mengepul di mana-mana.

Di peringkat kedua adalah limbah rumahtangga 24 persen, disusul gas buang transportasi 20 persen, sektor komersial 15 persen, timbunan sampah 6 persen, emisi lainnya 4 persen dan limbah cair 2 persen.

Rasanya semakin ngeri melihat makin besarnya potensi polutan di masa mendatang bila menilik cepatnya lonjakan jumlah kendaraan bermotor.

Untuk sepeda motornya saja, misalnya. Kalau pada 2005 jumlah sepeda motor yang melenggang di jalanan baru di angka 2,5 juta unit, maka pada 2029 diperkirakan tembus angka 14 juta lebih.

Jumlah mobil yang pada 2005 baru satu juta unit, maka 2029 ditaksir melonjak jadi empat juta unit!

Sementara berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, pada 2009, jumlah kendaraan bermotor mencapai 9.993.867 unit. Angka ini meningkat 15 persen pada 2010 dengan total angka 11.362.396, terdiri atas roda dua sebanyak 8.244.346 unit dan roda empat sebanyak 3.118.050 unit.

Angka ini belum termasuk jumlah angkutan yang melintas dalam satu trayek. Berdasar data Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya angkanya mencapai 859.692 unit.

Padahal panjang jalan di Jakarta cuma 7.650 km. Luas luas hanya jalan 40,1 km atau 0,26 persen dari luas wilayah DKI. Sedangkan pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01 persen per tahun.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Royke Lumowa mengingatkan Jakarta bakal macet total alias stuck tak lama lagi, yakni 2014, tahun depan.

"Kalau melihat pertumbuhan kendaraan sekitar 700 per hari, maka kami prediksi 2014 jalan di Jakarta sudah stuck. Kalau tidak ada kebijakan membatasi angka kendaraan tentu akan semakin parah kondisinya," ujar Royke, Senin (1/8/2011) di Polda Metro Jaya kepada pers, termasuk Tribunnews.

Kecuali, bila obsesi transportasi massal ala Gubernur Jukowi bisa segera terwujud dan volume kendaraan bisa direm.

Tapi, lagi-lagi cita-cita ini bertabrakan dengan target kerja Kementerian Perindustrian yang mendorong sebanyak-banyaknya penjualan produk otomotif. Wah, ya repot!

Solusi Gas Rumah KacaKarena pemanasan global dipicu oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca yang melayang-layang di atmosfer, maka sumber emisi itu harus ditekan.

Apalagi sumbernya kalau aktivitas manusia yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil seperti pada kendaraan bermotor, juga penggunaan alat elektronik.

Walhi Jakarta meyakini, bila emisi gas rumah kaca tidak ditekan, diperkirakan tidak hanya pemanasan global yang mengintai tapi juga krisis air bersih di Jakarta akibat meningkatnya permukaan air laut yang mengintrusi air tanah serta makin tingginya frekuensi penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk.

"Ini karena meningkatnya suhu membuat masa inkubasi nyamuk makin pendek," kata Tubagus Soleh dari Walhi Jakarta kepada Tribunnews.

Pihaknya menyerukan kampanye memerangi efek rumah kaca, antara lain:

- Menggunakan penerangan listrik seperlunya dengan lampu yang hemat energi.

- Menggalakkan transportasi massal, menekan jumlah mobil pribadi.

- Kalau perlu, gunakan kendaraan non-motor. Seperti dicontohkan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, yang boro-boro mau menunggangi fasilitas mobil dinas yang nyaman, malah memilih gowes, naik sepeda dari dan ke kantor tempatnya bertugas, meski harus bercucuran keringat di tengah siang terik.

- Moratorium penebangan hutan dan kampanye menanam pohon di setiap rumah.

Mengenai ide menanam pohon di tiap rumah ini, aktris Widyawati amat sepakat. "Coba bayangkan, kalau di depan tiap rumah ada satu pohon besar saja, betapa sumbangsihnya besar dalam menyerap karbon dan menyuplai oksigen buat sesama," timpal pemain film senior Widyawati Sophiaan.

Karena itu, wanita yang tetap cantik di usia senja ini amat gembira melihat fenomena makin maraknya gaung gerakan go green, isu-isu back to nature, isu ramah lingkungan, dan kampanye sejenis lain.

"Saya lihat, program CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan-perusahaan dan institusi di Jakarta juga banyak yang mengarah ke gerakan menanam sejuta pohon dan sejenisnya. Baguslah!" gumam Widya.

Kini bermunculan pula LSM dan tokoh-tokoh penyelamat lingkungan di Jakarta. Tak sedikit yang menggaungkan produksi pangan organik yang konon pestisida kimia.

Aktivitas masyarakat menanam pohon mulai banyak dilakukan. Begitu juga kesadaran menggunakan barang yang berasal dari daurulang dan pengurangan plastik.

Walhi Indonesia masih mengingat pidato Presiden Yudhoyono pada suatu pertemuan internasional tentang lingkungan di Nusa Dua Bali, pada Februari 2010.

Pada pidatonya, SBY berjanji, Indonesia berkomitmen mengurangi emisi karbonnya sampai 26 persen pada tahun 2020.

Saat itu, SBY mengklaim sudah banyak kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Indonesia yang tujuannya meningkatkan penggunaan sumber energi non fosil (terbarukan).

"Janjinya indah, tapi implementasinya belum maksimal," tutur Tumpak Hutabarat, Ketua Walhi Indonesia.

Bukan Problem Terlalu SulitKalau memang masalah besarnya adalah emisi gas rumah kaca, salah satu solusi yang ditawarkan Walhi adalah listrik ramah lingkungan sebagai sumber energi utama. Artinya listrik dengan pembangkit yang tidak memakai Bahan Bakar Minyak (BBM).

Cukup menggunakan energi air terjun atau hempasan angin dan matahari yang jelas-jelas melimpah ruah di segala penjuru Indonesia yang beriklim tropis ini.

Ini langkah mewujudkan janji mengurangi emisi karbon sampai 26 persen pada tahun 2020. Bahkan bisa melebihi target yang diperkirakan.

Kalau negeri ini telah berhasil dalam hal swasembada listrik, secara otomatis penggunaan bahan bakar fosil dapat ditekan. Mesin-mesin yang selama ini masih mempergunakan bahan bakar fosil dapat dialihkan ke listrik. Misalnya kendaraan listrik, mesin industri dan sebagainya.

Ketakutan pada isu temperatur Jakarta akan mendekati suhu setengah air mendidih bisa sirna.

Sumber-sumber Emisi Gas Rumah Kaca di Jakarta
----------------------------------------------------------------------------
No Sumber Jenis Emisi

1 Transportasi CO2, CH4, N20

2 Industri CO2, CH4, N2O

3 Rumah Tangga CO2, CH4, N2O

4 Komersial CO2, CH4, N2O

5 Pembangkit CO2, CH4, N2O

6 Limbah Padat CH4

7 Limbah Cair CH4

8 Ruang Terbuka Hijau CO2

Peringkat Penyumbang Emisi Gas Rumah Kaca
------------------------------------------------------------------------
No Sektor Persen

1 Industri               29

2 Rumah Tangga     24

3 Transportasi        20

4 Komersial            15

5 Sampah                 6

6 Lainnya                 4

7 Limbah Cair          2

Catatan: - Total volume gas rumah Kaca di
Jakarta tahun 2005
sebesar 35.09 Juta Ton CO2e


Pencegahan
Penanaman satu miliar pohon per tahun bisa menurunkan emisi gas rumah kaca, sehingga target 26 persen pada 2020 diharapkan bisa tercapai. Penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sekitar 26 persen pada 2020 mendatang, antara lain melakukan upaya pengendalian kerusakan hutan, penggunaan energi dan transportasi, serta pengolahan limbah. Penurunan gas rumah kaca di Indonesia bisa diturunkan hingga 41 persen, bila mendapatkan dukungan dari luar negeri. Kalau ada dukungan dari luar negeri, maka penurunan emisi bisa bertambah 15 persen, sehingga bisa 41 persen penurunannya.
Penting dilakukan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan, pengelolaan sistem jaringan dan tata air, rehabilitasi hutan dan lahan, pemberantasan pembalakan liar, pencegahan deforestasi dan pemberdayaan masyarakat.
Penggunaan energi ramah lingkungan dan transportasi yang efisien juga bisa membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Kawasan Konservasi Mangrove ini sangat baik untuk membantu penurunan emisi gas rumah kaca, selain merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.


from:

Sabtu, 19 Oktober 2013

PENGAMATAN TUMBUHAN DAN HEWAN

ILMU ALAMIAH DASAR

Pengamatan 5 Tumbuhan dan 5 Hewan

1. Kelelawar
*merupakan satu-satunya mamalia yang dapat terbang
*mencari makan pada waktu malam
*tidur pada saat siang hari dengan keadaan menggantung terbalik
*hidup di gua yang lembab dan gelap atau di pohon yang tinggi
*jenis dari kelelawar adalah : kelelawar buah (pemakan buah), kelelawar lidah panjang (pemakan nektar), kelelawar ikan (pemakan ikan), kelelawar katak (pemakan katak), kelelawar vampir (pemakan darah)
*umumnya sayapnya berwarna hitam
*memiliki kemampuan ekolokasi (menggunakan gelombang bunyi untuk mengetahui posisi mangsanya)

2. Bunglon
*memiliki 4 kaki
*dapat mengubah warna tubuhnya sebagai tanggapan terhadap perubahan suhu dan cahaya di sekitarnya
*kemampuan menyamar bunglon membantunya dalam menangkap mangsa maupun menghindari dari pandangan musuh
*memiliki lidah panjang dan lengket untuk menangkap mangsa dan membawanya ke rahang
*memiliki mata yang dapat berputar dan dapat melihat ke segala arah
*memiliki kaki yang dapat mencengkeram seperti tangan agar dapat mencengkeram dengan kuat

3. Cecak atau Tokek
*umumnya berwarna coklat
*memiliki 4kaki
*dapat merayap di dinding
*pada telapak kakinya terdapat struktur lapisan yang bersifat lengket dan tampak seperti guratan-guratan yang berfungsi sebagai alat perekat

4. Bebek
*memiliki 2 kaki
*memiliki kaki yang berselaput sehingga memudahkan untuk berenang
*memiliki paruh yang berbentuk pipih dan lebar untuk memudahkan mencari cacing di dalam lumpur
*bulu bebek selalu berminyak sehingga bebek tidak basah walaupun berendam lama di dalam air

5. Tupai
*umumnya berwarna coklat
*memakan buah berkulit keras seperti kenari, chestnut, hazelnut, dan buah cemara
*memiliki ekor yang panjang berumbai dan hampir sama panjang dengan badannya
*dapat melompat dari ujung dahan ke dahan lain sejauh 4 meter

6. Kaktus
*berwarna hijau
*berduri tajam
*umumnya hidup di gurun pasir yang kering dan tandus
*memiliki daun yang berbentuk duri untuk mengurangi penguapan air
*memiliki akar yang panjang yang berfungsi untuk menyerap air sebanyak-banyaknya saat musim hujan berlangsung
*batangnya berfungsi untuk menyimpan air

7. Bunga Matahari
*tumbuhnya di daerah yang terkena sinar matahari
*berwarna kuning
*bentuk bunganya seperti matahari (kuning, bulat, dan besar)

8. Eceng Gondok
*berwarna hijau
*mempunyai tangkai daun yang menggelembung(berongga) yang berfungsi untuk mengapung di permukaan air
*permukaan daunnya licin

9. Putri Malu
*berwarna hijau
*termasuk tanaman polong-polongan
*daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup/layu dengan sendirinya jika disentuh atau ditiup
*tanaman ini juga menguncup saat matahari terbenam dan merekah kembali setelah matahari terbit

10. Lidah Buaya
*berwarna hijau
*daunnya agak runcing berbentuk taji/pedang , berdaging tebal , getas , tepinya bergerigi atau berduri kecil lemas , tidak bertulang , permukaan daun dilapisi lilin dan berbintik-bintik
*bersifat sukulen (mengandung banyak air)
*banyak mengandung getah atau lendir

Cerita Rakyat

Cerita Rakyat Kalimantan Barat

BATU MENANGIS

Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.

Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.

Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.

Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, "Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?"
Namun, apa jawaban anak gadis itu ?
"Bukan," katanya dengan angkuh. "Ia adalah pembantuku !"
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.
"Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?"
"Bukan, bukan," jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. " Ia adalah budakk!"
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.

"Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia...."
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.

" Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu...Ibu...ampunilah anakmu.." Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut " Batu Menangis ".

Demikianlah cerita berbentuk legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.


http://www.lokerseni.web.id/2011/12/cerita-legenda-batu-menangis.html#ixzz2iB7wC3vy