Minggu, 29 Desember 2013

PRO-KONTRA ENERGI NUKLIR SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK (PLTN)








Minat umum untuk tenaga nuklir ‘kecil’












Jajak pendapat yang diadakan untuk BBC menunjukkan bahwa keinginan masyarakat di dunia pada kelanjutan tenaga nuklir hanya kecil.
Survei GlobeScan yang dilakukan terhadap lebih dari 20.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga responden menentang pembangunan reaktor nuklir baru.
Hanya 22% responden setuju bahwa "tenaga nuklir relatif aman dan merupakan sumber listrik yang penting, dan kita harus membangun lebih banyak pembangkit tenaga nuklir".
Sebaliknya, 71% berpendapat negara mereka "dapat seluruhnya mengganti batu bara dan tenaga nuklir dalam waktu 20 tahun dengan menggunakan energi yang efisien dan memusatkan perhatian pada tenaga surya dan angin".
Secara keseluruhan 39% responden ingin tetap menggunakan reaktor yang ada tanpa membangun pembangkit baru, sementara 30% responden menginginkan semua pembangkit listrik tenaga nuklir ditutup sekarang juga.

Penentangan bertambah

Jajak pendapat GlobeScan untuk BBC diadakan mulai Juli hingga September tahun ini, beberapa bulan setelah bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang yang menghanculkan PLTN Fukushima Daiichi.
Jumlah orang yang menentang pembangunan baru pembangkit listrik tenaga nuklir tampak bertambah di Prancis, Jerman, Meksiko, Rusia dan Jepang.
Pada 2005 lalu GlobeScan melakukan jajak pendapat di delapan negara yang mempunyai program nuklir. Jumlah responden yang menentang pembangunan reaktor baru di sebagian besar negara-negara tersebut meningkat.
Di Jerman jumlah mereka meningkat dari 73% pada 2005 menjadi 90% sekarang ini dan perkembangan tersebut mencerminkan keputusan pemerintah Jerman baru-baru ini untuk menutup program nuklirnya.
Di negara pronuklir, Prancis, jumlah penentang meningkat dari 66% menjadi 83% pada periode yang sama. Namun di Jepang kenaikan jumlah penentang tidak terlalu besar, dari 76% menjadi 84%.
Sedangkan beberapa pro-kontra yang berada di Indonesia terdapati sebagai berikut:
Jumat 8 April 2011 yang lalu, Fakultas Filsafat bekerja sama dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Penerbit Kanisius mengadakan diskusi tentang pro kontra nuklir. Hal ini menarik mengingat insiden Fukushima menjadikan banyak orang berpikir ulang mengenai mendesak atau tidaknya pengembangan nuklir di Indonesia. Tentu saja bagi masyarakat umumnya, ketakutan akan bahaya radiasi menjadi alasan tersendiri untuk berpikir ulang perlu atau tidak  atau bahkan menolak mentah-mentah pengembangan nuklir di Indonesia.
Diskusi menghadirkan Dr. A. Sonny Keraf, dosen filsafat  Unika Atmajaya Jakarta dan mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Dr. Ir. Tumiran, M.Eng., anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dan Dekan Fakultas Teknik UGM, dan sebagai pembahas Prof. dr. Hari Kusnanto. Dr.PH., Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM. Diskusi  yang dimoderatori Drs. Achmad Charris Zubair ini apa pro-kontra mendapat perhatian banyak kalangan, diikuti oleh tidak kurang dari 200 peserta yang terdiri dari banyak pakar/dosen dari Teknik Fisika, Sosiologi, dan berbagai ilmu di lingkungan UGM, para praktisi kesehatan dan lainnya di lingkungan DIY, para mahasiswa baik S1, S2 maupun S3 di lingkungan UGM,  wartawan, dan peminat lain.

Dalam sambutannya Dekan Fakultas Filsafat mengatakan bahwa termasuk tugas Fakultas Filsafat untuk memberikan ruang publik bagi pengembangan dan konsultasi berbagai gagasan terkait dengan persoalan di masyarakat termasuk mengenai perlu tidaknya pengembangan energi nuklir di Indonesia. Hadir mewakili penerbit Kanisius Drs. Supriyono menyambut baik kerjasama yang dirintis Perpustakaan Fakultas Filsafat. Selain ini beliau juga menyinggung mengenai filosofi “makan untuk hidup atau hidup untuk makan”. Implisit dalam konteks ini, sesungguhnya nuklir diperlukan dalam rangka untuk hidup yang seperti apa. Apakah manusia harus hidup dan memerlukan energi nuklir? Kapan?

Sejalan dengan konsep ini diskusi mengupas sejauh mana energi nuklir diperlukan dan kapan mengingat banyak di antara kita setuju tentang pentingnya nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi asal tidak dekat-dekat dengan tempat kita tinggal, “not in my back yard”. Sonny Keraf lebih menekankan pada perlunya pengembangan energi lain mengingat Indonesia sangat kaya akan sumber-sumber energi. Pembangunan reaktor nuklir juga memerlukan proses yang lama dan biaya yang tidak sedikit. Kalau toh pengembangan energi nuklir “terpaksa” dilaksanakan, persiapkan dulu segala persyaratannya termasuk kesiapan mentalitas dan moralitas masyarakat sehingga mampu menopang kemungkinan efek negatif yang mungkin timbul. Faktor resiko bencana alam juga menjadi salah satu perhatian. Maka Sonny mengatakan, mungkin pengembangan energi nuklir di Indonesia baru bisa direalisasikan tahun 2100, ketika manusia Indonesia sudah mampu menyiapkan diri untuk menghadapi segala resiko yang dihadapi. Prinsip kehati-hatian menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi resiko pengembangan sumber energi terutama yang akan berdampak serius di masyarakat.

Dr. Ir. Tumiran, M.Eng., lebih banyak menyajikan mengenai kebutuhan energi Indonesia. Menurutnya, dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia mengalami defisit energi dibandingkan dengan yang semestinya diperlukan. Belum semua wilayah di Indonesia mendapatkan pasokan listrik padahal kecukupan energi menjadi faktor penting  yang akan mendorong kemajuan masyarakat. Pengembangan sumber energi menjadi kebutuhan dan semuanya memerlukan biaya yang besar. Pengembangan nuklir hanyalah salah satu alternatif dan bila hal itu diambil maka resikonya juga harus dipertimbangkan. Pilihan inilah yang akan menjadi titik pijak bagi tidak atau dilaksanakannya pengembangan sumber energi baru termasuk nuklir.

Mempertimbangkan banyak faktor yang di atas, Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH. mengingatkan bahwa banyak insiden yang terjadi di Indonesia lebih dikarenakan human factor. Nah, siapkah bangsa Indonesia membawa diri untuk tidak mengalami insiden dan bencana di banyak hal berkait pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi? Kalau sampai 2100 tidak ada aspek human factor dari semua kegiatan yang berkait dengan teknologi, mungkin ini menjadi ujian dan lulusnya bangsa Indonesia untuk menyiapkan pengembangan sumber energi nuklir. Tetapi bagaimana dengan resiko yang lebih besar karena Indonesia berada di wilayah bahaya (ring of fire)? Sepertinya kita harus menghitung lebih banyak faktor lagi.

Menurut saya, saya tidak setuju jika Indonesia membuat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), karena Indonesia belum cukup kuat untuk membuat Pembangkit Listrik bertenaga Nuklir seperti yang berada di Jepang, maupun tempat lainnya. Saya berpendapat seperti itu karena Indonesia adalah tempat yang berada di garis Khatulistiwa yang rawan terjadinya gempa. Jika Indonesia memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir maka kemungkinan besar Nuklir-nuklir yang sedang dipergunakan menjadi goyah dan gampang terjadi ledakan.
Contoh saja kejadian di Chernobyl terletak di Ukraina utara, tepatnya di Oblast Kiev dekat dengan perbatasan Belarusia. Terjadi ledakan nuklir yang begitu hebat. Pada 26 April 1986, Reaktor #4 di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl didekat kota Pripyat, Ukraina, meledak. Ledakan itu terjadi pada 1:23 dini hari ketika warga kota tetangga Pripyat sedang tertidur. Dua pekerja tewas seketika. 40 jam kemudian, penduduk Pripyat diperintahkan untuk mengungsi, dan jangan pernah kembali, pada saat itu, banyak warga telah menderita keracunan radiasi berbagai tingkat.
Pada tahun 2003, Program Pembangunan PBB meluncurkan proyek yang disebut Pemulihan dan Pembangunan Chernobyl (CRDP) untuk pemulihan daerah bencana. Program ini diluncurkan kegiatannya berdasarkan Konsekuensi Manusia rekomendasi laporan Kecelakaan Chernobyl Nuklir dan dimulai pada bulan Februari 2002. Tujuan utama dari kegiatan CRDP itu adalah mendukung Pemerintah Ukraina untuk mengurangi konsekuensi jangka panjang sosial, ekonomi dan ekologi dari bencana Chernobyl, antara lain. CRDP bekerja di empat paling Chernobyl daerah yang terkena di Ukraina: Oblast KievOblast Zhytomyrska, sebagian KievOblast Chernihivska dan Oblast Rivne.
Lebih baik gunakan Pembangkit Listrik bertenaga air maupun udara. Karena lebih aman, dan juga tidak terlalu menggunakan banyak biaya jika ingin membuat Pembangkit Listriknya yang baru. Indonesia adalah Negara dengan banyak koleksi alam yang sangat bagus dan indah, jadi sangat disayangkan jika Indonesia suatu saat disebut sebagai "kota hantu" dikarenakan terjadi ledakan Nuklir yang dahsyat. Bukan hanya Indonesia yang akan terkena radiasi dari nuklir tersebut, namun negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Australia juga akan mendapatkan radiasi nuklir yang dibuat dari Indonesia.
Sumber masalah hanya satu namun yang terkena akibatnya sangatlah banyak. Jadi Indonesia harus berpikir ribuan kali jika ingin menggunakan Nuklir sebagai Pembangkit Listrik.

SUMBER :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar